Penanganan Pada Bayi Prematur

29 April 2020PapiBunda

Secara fisik, bayi yang lahir prematur akan terlihat berbeda dari bayi yang lahir normal. Tubuh bayi prematur berukuran lebih kecil dengan ukuran kepala yang sedikit lebih besar. Ciri lain bayi prematur adalah:

  • Diselimuti bulu halus yang tumbuh lebat di seluruh tubuh.
  • Bentuk mata tidak sebulat bayi normal karena kekurangan lemak tubuh.
  • Suhu tubuh yang rendah.
  • Sulit bernapas karena perkembangan paru yang belum sempurna.
  • Belum bisa mengisap dan menelan dengan sempurna, sehingga sulit menerima asupan makanan.

Usia kehamilan akan menentukan kondisi kesehatan bayi yang dilahirkan. Berikut ini adalah gangguan kesehatan yang dapat terjadi:

  • Janin yang lahir sebelum usia kehamilan 23 minggu, kemungkinan tidak dapat bertahan hidup di luar rahim sang ibu.
  • Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 25 minggu, berisiko tinggi menderita gangguan yang bersifat jangka panjang, yaitu gangguan saraf dan kesulitan belajar.
  • Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 28 minggu, berisiko tinggi menderita komplikasi yang tidak permanen, seperti gangguan pernapasan.
  • Bayi yang lahir antara usia kehamilan 28-32 minggu, kondisi kesehatannya akan membaik secara bertahap. Setelah usia 32 minggu, risiko bayi mengalami gangguan semakin rendah.

Setelah dilahirkan, dokter akan melakukan penanganan khusus terhadap bayi prematur. Bayi prematur akan menjalani perawatan intensif di ruang NICU (neonatal intensive care unit) hingga organ dalam berkembang sempurna dan kondisi bayi stabil tanpa ditopang oleh perawatan di rumah sakit. Bentuk penanganan khusus yang dilakukan dokter anak, meliputi:

  • Memasukkan bayi ke dalam inkubator agar suhu tubuh bayi tetap hangat.
  • Memasang sensor di tubuh bayi untuk memantau sistem pernapasan, detak jantung, tekanan darah, dan suhu tubuh bayi.
  • Memberi ASI melalui selang makan yang dipasang melalui hidung bayi.
  • Bayi yang lahir dengan penyakit kuning akan menjalani terapi sinar untuk mengurangi warna kuning tubuh.
  • Memberikan transfusi darah untuk meningkatkan jumlah sel darah bayi, jika diperlukan. Hal ini dilakukan karena proses pembentukan sel darah merah belum sempurna.
  • Melakukan pemeriksaan jantung bayi secara berkala dengan USG jantung atau ekokardiografi.
  • Pemeriksaan USG juga dilakukan untuk memeriksa kemungkinan adanya perdarahan di otak dan organ tubuh lainnya, seperti hati dan ginjal.
  • Pemeriksaan mata akan dilakukan untuk mendeteksi kelainan yang dapat menggangu penglihatan.

Komplikasi Kelahiran Prematur

Kelahiran prematur berdampak pada ibu dan bayi yang dilahirkan. Bayi prematur memiliki risiko komplikasi penyakit lebih besar dibandingkan dengan bayi normal. Komplikasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Komplikasi jangka pendek. Bayi prematur berisiko mengalami sejumlah gangguan fungsi organ tubuh, seperti jantung, otak, saluran pernapasan, saluran pencernaan, serta gangguan kekebalan tubuh dan sulit mengatur suhu tubuh. Bayi prematur juga berpotensi mengalami penyakit kuning, karena organ hati yang belum matang.
  • Komplikasi jangka panjang. Bayi prematur berisiko mengalami komplikasi jangka panjang, seperti lumpuh otak (cerebral palsy), gangguan pendengaran dan gangguan penglihatan (Retinopathy of Prematurity), penurunan kecerdasan, gangguan psikologis, hingga bayi meninggal mendadak.

Pencegahan Kelahiran Prematur

Langkah pencegahan utama kelahiran prematur adalah dengan menjaga kesehatan, sebelum dan selama masa kehamilan. Upaya ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  • Lakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Melalui pemeriksaan kehamilan, dokter dapat memantau kesehatan ibu hamil dan janin dalam kandungan, serta mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi selama kehamilan.
  • Menjalani diet sehat sebelum hamil. Konsumsi makanan sehat yang kaya protein, buah, dan biji-bijian sebelum hamil, dapat mengurangi risiko kelahiran prematur.
  • Hindari paparan bahan kimia dan substansi berbahaya, seperti asap rokok, makanan kaleng, kosmetik, alkohol, dan NAPZA.
  • Konsumsi suplemen kalsium. Konsumsi suplemen kalsium 1000 mg atau lebih per hari, dapat mengurangi risiko kelahiran prematur dan preeklamsia.
  • Mempertimbangkan jarak kehamilan. Kehamilan yang hanya berjarak kurang dari 6 bulan dari persalinan terakhir, dapat meningkatkan kelahiran prematur.
  • Menggunakan pesarium (cervical pessary). Ibu hamil dengan ukuran serviks yang pendek disarankan memakai pesarium guna menyangga rahim agar tidak turun. Bentuk alat ini menyerupai cincin yang dipasang di mulut rahim.

Jika ibu hamil berisiko tinggi mengalami kelahiran prematur akibat penyakit kronis yang dideritanya, maka dokter dapat memberikan obat-obatan sesuai kondisi ibu hamil untuk menurunkan risiko tersebut, misalnya obat untuk mengendalikan tekanan darah atau kadar gula darah.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post
error: Content is protected !!